
SUKABOGOR.com – Kejadian yang melibatkan anggota Laskar Pengamanan Presiden (Paspampres) dan seorang jurnalis Inggris baru-baru ini menjadi perhatian publik. Video yang menampilkan teguran dari jurnalis tersebut kepada anggota Paspampres menyebar luas di media sosial, memicu berbagai tanggapan dari masyarakat. Hal ini memaksa pihak terkait untuk memberikan penjelasan resmi guna menjelaskan duduk perkara sebenarnya dari insiden tersebut.
Latar Belakang Insiden Viral
Peristiwa tersebut terjadi saat kunjungan formal seorang pejabat Negara Barat ke Indonesia, di mana pengamanan ketat diberlakukan untuk menjamin keselamatan dan kelancaran acara. Namun, suasana berubah tegang ketika seorang jurnalis Inggris menegur personil Paspampres yang bertugas. Dalam video yang tersebar, tampak sang jurnalis berbicara dengan nada tinggi, menekankan pentingnya kebebasan pers dan tugas jurnalis yang harus dihormati oleh seluruh pihak.
Menurut saksi mata yang berada di loka kejadian, insiden ini diduga bermula ketika sang jurnalis mencoba mendapatkan akses untuk mengambil gambar lebih dekat dengan pejabat negara yang lagi dikelilingi oleh Paspampres. “Kami harus mampu melakukan pekerjaan kami tanpa dibatasi,” ungkap jurnalis tersebut. Ucapannya ini mencerminkan keresahannya terhadap pengamanan yang dianggap terlalu ketat dan menghambat pekerjaannya.
Respon dari Paspampres dan Komunitas Jurnalis
Menanggapi kejadian ini, pihak Paspampres menyampaikan klarifikasi bahwa mereka memahami tugas dan tanggung jawab jurnalis, tetapi pada saat bersamaan, mereka juga mempunyai tugas primer untuk memastikan keamanan dan ketertiban. Seorang perwakilan Paspampres menjelaskan bahwa tindakan mereka semata-mata buat memenuhi standar operasional mekanisme pengamanan VIP dan bukan buat menghalangi kebebasan pers. “Kami selalu berusaha menjalankan tugas kami tanpa mengganggu fungsi jurnalis,” ujar salah seorang personil Paspampres dalam klarifikasinya.
Fana itu, komunitas jurnalis baik dari dalam maupun luar negeri menyoroti pentingnya komunikasi yang bagus antara pengamanan dan pers di berbagai acara kenegaraan. Mereka menekankan bahwa koordinasi yang efektif dapat menghindari terjadinya kesalahpahaman yang dapat memperkeruh suasana. Beberapa organisasi jurnalis bahkan mengajukan permohonan agar pihak penyelenggara acara menaikkan pelatihan bagi personil pengamanan terkait etika berinteraksi dengan media.
Dengan adanya kejadian ini, diharapkan eksis usaha perbaikan dari kedua belah pihak guna mencegah terulangnya insiden serupa di masa depan. Komunikasi yang lebih terbuka dan pemahaman yang lebih baik antara jurnalis dan petugas keamanan dipandang sebagai solusi jangka panjang buat menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, efektif, dan saling menghargai dalam setiap kegiatan yang melibatkan publik.



