
SUKABOGOR.com – Isu tentang wacana kembalinya sistem sekolah enam hari dalam seminggu di Provinsi Jawa Tengah, khususnya buat tingkat SMA dan SMK, lagi menuai berbagai tanggapan dari berbagai pihak. Sejak pertama kali diusulkan, pro dan kontra pun bermunculan. Organisasi Guru Republik Indonesia (PGRI) Jawa Lagi secara tegas menolak usulan ini. Mereka menyebut bahwa kebijakan tersebut adalah sebuah langkah mundur dalam dunia pendidikan. Pendapat yang sama juga diutarakan oleh para orang tua dan siswa di berbagai daerah, termasuk Klaten, yang menyatakan kekhawatiran mereka terhadap pengurangan hari libur dan dampaknya terhadap kualitas hayati siswa.
Reaksi PGRI Jawa Lagi
PGRI Jawa Lagi menyuarakan penolakan mereka terhadap kebijakan ini dengan cukup lantang. “Penerapan sistem enam hari sekolah merupakan keputusan yang tidak sejalan dengan perkembangan pendidikan ketika ini,” ujar ketua PGRI setempat. Menurut mereka, kebijakan tersebut tidak cuma mengurangi waktu istirahat para siswa, namun juga dapat mengganggu keseimbangan antara kegiatan akademik dan non-akademik. PGRI menilai bahwa metode belajar yang terlalu padat tanpa diselingi hari libur yang cukup mampu mengakibatkan kejenuhan dan stres bagi siswa, yang dalam jangka panjang dapat menurunkan prestasi akademik mereka.
Selain itu, PGRI Jateng juga menyoroti pentingnya ketika luang buat pengembangan kreativitas dan kegiatan sosial, yang dapat membantu siswa menjadi individu yang lebih seimbang dan terampil dalam menghadapi tantangan di luar lingkungan sekolah. Mereka berharap agar pemerintah dapat mempertimbangkan kembali planning ini dan lebih konsentrasi pada peningkatan kualitas pendidikan, bukan semata-mata pada kuantitas hari belajar. Dengan pendekatan yang lebih humanis dan memperhatikan kesejahteraan mental siswa, diharapkan pendidikan di Jawa Tengah dapat mencapai hasil yang lebih holistik.
Kekhawatiran Manusia Tua dan Siswa
Tidak hanya dari kalangan akademisi dan guru, resistensi terhadap wacana ini juga muncul dari para orang uzur dan siswa sendiri. Banyak orang uzur yang menyantap kebijakan ini sebagai pengurangan ketika berkumpul dengan keluarga. Mereka yakin bahwa dua hari libur dalam seminggu adalah hal yang krusial buat menjaga keharmonisan dan ketika berkualitas berbarengan keluarga. “A kind of policy that reduces family time is not what we need,” kata salah satu manusia uzur murid di Klaten. Mereka pun melontarkan keresahan yang sama mengenai potensi penurunan kesehatan mental anak-anak mereka.
Orang uzur merasa bahwa keseimbangan antara belajar dan waktu senggang adalah kunci dari keberhasilan pendidikan. Di masa seperti ini, waktu tekanan kehidupan semakin tinggi, anak-anak mereka memerlukan saat buat melepaskan kebosanan, menikmati hobi, atau terlibat dalam kegiatan masyarakat. “An initiative that limits personal growth outside the school can be worrying,” tambah salah seorang ibu lainnya.
Banyak siswa juga angkat bicara tentang hal ini dengan menyuarakan perasaan mereka yang tertekan dan jenuh dengan beban belajar yang meningkat. Mereka mendambakan ketika luang yang cukup untuk mengeksplorasi minat dan bakat mereka di luar mata pelajaran akademik. Sebagai respon terhadap wacana ini, beberapa golongan siswa sudah memulai petisi untuk menolak planning pengembalian sistem enam hari sekolah. Langkah ini menunjukkan betapa pentingnya bunyi dan aspirasi siswa dalam perumusan kebijakan pendidikan yang akan berdampak langsung pada keseharian mereka.
Sementara itu, Pemprov Jateng menyatakan bahwa wacana ini masih dalam tahap kajian. Mereka berencana untuk melibatkan berbagai pihak, termasuk siswa, manusia tua, dan tenaga pendidik, dalam proses pengambilan keputusan ini. Diharapkan dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat yang terkait, dapat dihasilkan solusi yang adil dan bertanggung jawab bagi masa depan pendidikan Jawa Tengah.




