SUKABOGOR.com – Para pemilik dan sopir angkutan kota (angkot) rute 21 jurusan Ciawi–Baranangsiang berkumpul di Kantor Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor pada hari Senin (29/6/2026) untuk mengungkapkan kepedulian mereka terhadap penurunan pendapatan yang signifikan. Kehadiran mereka dipicu oleh semakin banyaknya bus stop Biskita yang muncul di jalur mereka, tepatnya di Ciawi, Tajur, dan Sukasari, yang mengakibatkan penurunan pendapatan angkot hingga 50 persen. Fenomena ini telah menjadi masalah yang mendalam bagi para sopir dan pemilik angkot, yang secara langsung merasakan akibat dari perubahan infrastruktur transportasi kota.
Efek Sosial dari Transportasi Publik
Keberadaan bus stop Biskita telah mempengaruhi kesejahteraan para sopir angkot rute 21 secara signifikan. Para sopir mengeluhkan bahwa penurunan penghasilan ini mempersulit mereka dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari dan melanjutkan operasional kendaraan mereka. Kondisi ini juga menimbulkan ketidakstabilan emosional dan keuangan bagi para sopir serta pemilik angkot, yang mengandalkan pendapatan harian dari trayek tersebut sebagai sumber primer pendapatan mereka. Tak jarang, mereka harus berhadapan dengan pilihan sulit buat mengurangi jumlah kendaraan yang beroperasi atau bahkan menghentikan fana operasional angkot.
Kepala Bidang Angkutan Dishub Kota Bogor, Dody Wahyudin, menyatakan bahwa pihaknya akan mencoba mencari solusi terbaik agar angkot masih dapat beroperasi dengan baik di tengah perubahan jalur transportasi kota. Menurutnya, diperlukan suatu formula penyeimbang yang dapat mengakomodasi semua pihak, baik dari angkot maupun Biskita, agar masalah ini dapat diatasi tanpa mengorbankan salah satu pihak. Dody menyadari bahwa tantangan ini memerlukan pendekatan yang bijak dan berkelanjutan demi menjaga keberagaman moda transportasi di Kota Bogor.
Mencari Solusi dari Persaingan Transportasi
Dishub Kota Bogor berkomitmen untuk mengevaluasi kebijakan terkait penempatan bus stop Biskita dan kemungkinan penataan ulang jalur bagi angkot untuk mengurangi efek negatif yang dirasakan oleh para sopir. Dody Wahyudin menyampaikan bahwa pihaknya akan mengadakan diskusi lebih terus dengan para pelaku transportasi dan pihak terkait lainnya, untuk mencari jalan keluar yang bisa memberikan keuntungan bagi seluruh pihak. Pendekatan ini bertujuan buat menciptakan atmosfer transportasi kota yang lebih produktif dan harmonis, sehingga setiap moda transportasi dapat saling melengkapi, bukan saling mendominasi.
Para sopir angkot berharap bahwa aspirasi mereka didengarkan, dan bahwa keputusan yang diambil tidak hanya sekadar respons fana, tetapi menjadi langkah strategis jangka panjang yang mampu menyejahterakan para pelaku upaya angkutan umum. Mereka juga merindukan adanya proteksi dari pihak pemerintah untuk masih bisa bertanding secara sehat dengan transportasi modern seperti Biskita. Dengan adanya perencanaan koordinasi yang masak, diharapkan keseimbangan antara angkot dan Biskita dapat tercapai, memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi semua pengguna transportasi kota.


