
SUKABOGOR.com – Sistem pendidikan di Indonesia terus menjadi sorotan, terutama waktu membahas mengenai prestasi siswa dalam ujian krusial seperti Tes Kemampuan Akademik (TKA). Khususnya, penilaian dalam mata pelajaran matematika dan bahasa Inggris menunjukkan hasil yang mengecewakan. Ini menimbulkan pertanyaan: apakah ini mencerminkan kelemahan dari siswa itu sendiri, atau ada faktor lain yang mempengaruhi hasil tersebut? Dalam beberapa dekade terakhir, para pakar dan pengamat pendidikan berpendapat bahwa penyebab primer dari rendahnya hasil ini tak sepenuhnya terletak pada siswa. Faktor-faktor eksternal seperti metode pengajaran, kurikulum yang tak relevan, serta dukungan dan fasilitas yang kurang juga perlu dipertimbangkan.
Kritik dan Penilaian Sistem Pendidikan
Komisi X DPR RI telah menyoroti masalah ini dan menekankan perlunya evaluasi yang rasional dan komprehensif terhadap sistem pendidikan. “Bukan kelemahan siswa,” demikian disampaikan oleh salah satu anggota Komisi X, menunjukkan bahwa unsur penyebab seharusnya dicari di luar kemampuan individu siswa itu sendiri. Dengan demikian, pemerintah dan pemangku kepentingan pendidikan diharapkan buat berfokus pada peningkatan kualitas pengajaran serta memberikan pelatihan yang lebih intensif dan relevan bagi guru. Ini termasuk meninjau kembali kurikulum untuk memastikan bahwa materi yang diajarkan sesuai dengan kebutuhan zaman.
Pentingnya evaluasi ini tak hanya untuk menemukan kelemahan dalam metode pendidikan yang sedang berlangsung, tetapi juga buat merancang strategi baru yang lebih efektif bagi penyelenggaraan pembelajaran di masa depan. Langkah ini dinilai sangat mendesak karena kecakapan siswa dalam kedua mata pelajaran ini menjadi parameter krusial dalam menghadapi tantangan global. Misalnya, kemampuan berbahasa Inggris menjadi keterampilan dasar dalam kompetisi di pasar kerja internasional, sementara matematika sangat krusial buat pengembangan logika dan pemecahan masalah, keterampilan esensial di berbagai bidang profesional.
Pertanyaan Mengapa dan Upaya Solusi
Laporan menunjukkan bahwa unsur lain yang harus segera dibenahi adalah cara penilaian dan ujian itu sendiri. Apakah kriterianya sudah sesuai dengan standar internasional? Bagaimana langkah mengukur kemampuan siswa yang lebih holistik daripada cuma berbasis pada hafalan dan teori? Ini penting buat dibahas agar evaluasi mampu lebih mencerminkan kapabilitas siswa secara menyeluruh.
Dengan mulai diterapkannya Tes Kemampuan Akademik (TKA) sejak Januari tahun ini di jenjang SD dan SMP untuk tahun 2026, ini menjadi momen tepat bagi para pemangku kepentingan untuk melakukan analisis dan restrukturisasi mendalam. Transformasi pendidikan yang diawali oleh penajaman sistem penilaian ini dapat menjembatani gap pendidikan yang terjadi selama ini, dan pada akhirnya meningkatkan energi saing generasi muda Indonesia di kancah global.
Selain itu, penerapan teknologi dalam pendidikan juga bisa menjadi solusi jangka panjang dalam mengatasi kelemahan ini. Pengenalan alat belajar digital serta platform interaktif diharapkan dapat memberikan variasi baru dalam proses belajar dan menumbuhkan minat siswa dalam mempelajari mata pelajaran yang dianggap sulit. “Cara terbaik memprediksi masa depan adalah dengan menciptakannya,” demikian kutipan yang relevan buat menyoroti bagaimana perubahan yang signifikan dapat dimulai dengan penemuan dalam pendidikan.
Secara keseluruhan, usaha peningkatan hasil TKA ini tak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah. Diperlukan kerjasama sinergis antara berbagai pihak termasuk institusi pendidikan, orang uzur, dan peserta didik itu sendiri. Program edukasi juga sebaiknya didesain lebih inklusif dan adaptif terhadap perubahan era. Dengan pendekatan yang lebih responsif terhadap kebutuhan dan perkembangan internasional pendidikan, diharapkan prestasi siswa Indonesia dalam matematika dan bahasa Inggris akan dapat meningkat signifikan di tahun-tahun mendatang.




