SUKABOGOR.com –
Mengenal Hidden Sugar dalam Makanan Kekinian
Makanan kekinian telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari gaya hayati modern. Namun, di balik tampilan menarik dan rasa yang menggugah selera, terdapat ancaman yang mengintai, yaitu hidden sugar atau gula tersembunyi. Keberadaan gula dalam makanan sering kali tidak disadari oleh konsumen, terutama pada produk-produk olahan yang dipasarkan sebagai makanan sehat. Terkadang, label “less sugar” atau “tanpa gula tambahan” menjadi pilihan bagi mereka yang acuh terhadap asupan kalori, namun kenyataannya, produk tersebut tetap mengandung gula dalam jumlah yang signifikan.
Hidden sugar merupakan gula yang tak dengan mudah terlihat dalam daftar komposisi makanan. Biasanya, gula ini tersembunyi di balik nama-nama lain seperti sukrosa, fruktosa, atau sirup jagung. Menurut sebuah penelitian, sekeliling 74% produk-produk makanan dalam kemasan yang dijual di pasar mengandung gula tambahan. Konsumsi gula berlebihan dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung. Dalam konteks ini, penting bagi masyarakat buat lebih waspada terhadap asupan gula mereka dan lebih selektif dalam memilih makanan.
Klaim ‘Less Sugar’ dan Tantangan Konsumen
Belakangan ini, banyak produsen makanan mulai memanfaatkan klaim “less sugar” sebagai strategi pemasaran. Alih-alih mengurangi konsumsi gula mereka, konsumen malah tertipu oleh label tersebut yang rupanya masih menyimpan kandungan gula yang berpotensi merugikannya. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) lebih menganjurkan penggunaan label “low sugar” yang dirasa lebih tepat. “Konsumen harus paham bahwa klaim less sugar belum tentu berarti kondusif, banyak variabel lain yang perlu dipertimbangkan,” demikian ungkap seorang peneliti kesehatan masyarakat.
Melihat kenyataan ini, krusial untuk mendidik konsumen tentang cara mengidentifikasi hidden sugar dalam produk makanan yang mereka konsumsi sehari-hari. Pengetahuan tentang pelabelan gizi tidak hanya membantu dalam memilih produk yang lebih sehat, namun juga berperan dalam pencegahan obesitas dan penyakit metabolik lainnya. Tantangan utama yang dihadapi adalah kurangnya informasi yang seksama dan mudah dipahami oleh masyarakat generik. Oleh sebab itu, upaya kolaboratif dari berbagai pihak, termasuk produsen makanan, regulator, serta institusi kesehatan, diperlukan buat mencapai tujuan ini.


