
SUKABOGOR.com – Warta mengenai seorang dosen yang terlibat dalam insiden melempar ludah di meja kasir swalayan di Makassar telah menyedot perhatian publik. Kejadian tersebut tidak cuma merugikan profesi dosen itu sendiri, tetapi juga memunculkan pertanyaan tentang adab pendidik di ruang publik. Peristiwa ini bermula waktu insiden tersebut terekam dan menjadi viral di media sosial, menimbulkan beragam reaksi dari netizen. Akibat tindakan tak layak ini, kampus tempat dosen tersebut mengajar menanggapi dengan cara tegas, fana Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) sedang menyiapkan hukuman.
Langkah Tegas Universitas dan Respon LLDIKTI
Universitas Islam Makassar (UIM) telah mengambil tindakan tegas dengan memecat dosen tersebut. Keputusan ini diambil setelah video insiden tersebut menjadi viral dan menciptakan sensasi di media sosial. “Kami tidak menoleransi tindakan yang merusak nama bagus institusi dan bertentangan dengan adab profesi,” jelas seorang perwakilan universitas. Meskipun dosen itu telah dipecat dari UIM, LLDIKTI sebagai otoritas pengawas perguruan tinggi di daerah tersebut, juga sedang dalam proses menentukan sanksi tambahan yang akan dijatuhkan. LLDIKTI menyatakan bahwa keputusan ini akan diumumkan pekan depan dan akan mempertimbangkan efek dari tindakan dosen tersebut terhadap reputasi pendidikan tinggi di kawasan itu.
Sementara itu, di kalangan mahasiswa dan rekannya, peristiwa ini menimbulkan keprihatinan. Banyak yang mengecam tindakan dosen tersebut sebagai perilaku yang tak sepatutnya datang dari seseorang yang dianggap sebagai panutan dan pendidik. Beberapa mahasiswa yang mengenalnya merasa kecewa dan berharap bahwa kejadian ini bisa menjadi pembelajaran bagi semua pendidik untuk lebih menjaga sikap dan perilaku saat berada di ruang publik.
Refleksi Etika dan Tanggung Jawab Pendidik
Peristiwa ini juga membuka obrolan yang lebih luas tentang pentingnya etika dan tanggung jawab sosial di kalangan pendidik. Dalam konteks profesional, seorang dosen tidak hanya bertanggung jawab untuk menyampaikan ilmu pengetahuan di dalam kelas, namun juga harus menjadi teladan di luar lingkungan akademis. Tindakan mencoreng prestise publik seperti ini tentu memaksa kita buat merenungkan standar adab yang seharusnya dipegang oleh seorang pendidik. Seorang pengamat sosial dari Makassar berkomentar, “Menjadi pendidik berarti mengambil tanggung jawab akbar, tidak hanya kepada mahasiswa, namun juga kepada masyarakat. Ini adalah posisi kepercayaan yang tak boleh disalahgunakan.”
Oleh sebab itu, pembelajaran etika dan komunikasi efektif menjadi semakin penting dalam lingkup pendidikan tinggi. Kampus dan institusi pendidikan diharapkan dapat memberikan pembekalan yang cukup agar pendidik dapat menjalankan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik. Hal ini termasuk bagaimana menghadapi situasi sulit tanpa menodai reputasi diri sendiri dan institusi yang diwakili. Sebuah langkah yang mungkin mampu dilihat sebagai upaya preventif adalah dengan mengadakan pelatihan etika rutin bagi semua staf dan dosen, agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
Dengan terjadinya insiden ini, penting bagi seluruh pihak yang berkecimpung dalam internasional pendidikan untuk mengingat kembali peran dan tanggung jawab mereka. Kasus ini seharusnya dapat menjadi cermin bagi setiap pendidik untuk senantiasa menjaga sikap dan adab, baik waktu di dalam maupun di luar lingkungan kampus. Cuma dengan demikian, kepercayaan masyarakat terhadap institusi pendidikan dan para pendidiknya dapat dipertahankan dan diperkuat.




