
SUKABOGOR.com – Dalam menghadapi penularan penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang semakin meresahkan, masyarakat Indonesia disarankan buat meningkatkan kewaspadaan. Demam berdarah dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Gejalanya meliputi demam tinggi, nyeri kepala, ngilu otot dan sendi, serta ruam kulit. Ketika tak ditangani dengan bagus, penyakit ini dapat menaikkan risiko komplikasi serius hingga kematian.
Mengetahui Gejala dan Tindakan Pencegahan DBD
Gejala demam berdarah umumnya muncul empat hingga tujuh hari setelah gigitan nyamuk. “Demam tinggi yang terjadi secara tiba-tiba disertai dengan gejala lainnya seperti mual, muntah, dan munculnya bintik-bintik merah kecil di kulit bisa menjadi tanda-tanda infeksi dengue,” jelas seorang pakar dari Kementerian Kesehatan. Mengetahui tanda-tanda awal ini sangat krusial agar penanganan dapat dilakukan segera. Bagi masyarakat, terutama yang berada di wilayah endemis, pencegahan menjadi cara paling efektif buat melindungi diri dan keluarga.
Pencegahan demam berdarah dapat dilakukan melalui 3M, yaitu menguras, menutup, dan mendaur ulang barang-barang yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk, seperti kaleng bekas dan tempat penampungan air. Selain itu, vaksinasi juga menjadi langkah penting dalam mengurangi risiko infeksi. “Lindungi diri dari demam dengue dengan vaksinasi,” ungkap seorang narasumber dari Kompas.id, yang menyoroti pentingnya tindakan preventif melalui program imunisasi.
Edukasi dan Keterlibatan Masyarakat dalam Mengatasi DBD
Masyarakat perlu dilibatkan secara aktif dalam kampanye edukasi dan pencegahan dengue. Salah satu contohnya adalah kegiatan door-to-door di Nagari Sungai Kunyit, loka di mana pemerintah setempat mengadakan edukasi langsung kepada penduduk. Kegiatan ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat agar lebih sadar dan acuh terhadap lingkungan sekeliling mereka. Dengan demikian, diharapkan nomor kejadian demam berdarah dapat ditekan secara signifikan.
lalu, Ketua Perhimpunan Peneliti dan Profesional Kesehatan Indonesia, dalam sebuah pernyataan, menekankan bahwa “pendidikan dan pemberdayaan masyarakat adalah kunci primer dalam mengatasi masalah demam berdarah dengue. Kita harus terus meningkatkan kesadaran akan bahaya penyakit ini dan langkah-langkah yang bisa diambil buat mencegahnya.” Melalui kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan forum kesehatan, diharapkan penyebaran DBD bisa dikendalikan dengan lebih efektif.
Cuaca ekstrim yang melanda beberapa daerah di Indonesia turut mempengaruhi penyebaran DBD. Contoh, di Kota Mataram, Dinas Kesehatan menyatakan kasus DBD masih terkendali meskipun kondisi cuaca tidak menentu. Dalam situasi ini, peran serta aktif dari masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan menjadi semakin penting. Pemberian informasi yang pas dan lekas oleh instansi kesehatan setempat juga menjadi elemen kunci dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit ini.



