SUKABOGOR.com – Dalam zaman digital seperti sekarang ini, generasi muda sering kali lebih tertarik buat menjadi viral di media sosial ketimbang terlibat dalam isu-isu demokrasi. Tetapi, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Tegal punya misi krusial buat mengubah perspektif ini. Mereka mengajak kaum muda untuk tak cuma berlomba-lomba menjadi sorotan publik melalui internasional maya saja, namun juga harus peduli terhadap perkembangan demokrasi di tanah air. Ergiono, selaku anggota Bawaslu Kabupaten Tegal, menekankan pentingnya peran serta generasi muda dalam menjaga keutuhan demokrasi di Indonesia.
Peran Pemuda dalam Demokrasi
Bawaslu mengidentifikasi bahwa generasi muda memiliki potensi akbar yang dapat disalurkan buat mendukung proses demokrasi, bukan hanya menjadi penikmat media sosial. Ergiono mengatakan, “Generasi muda harus menjadi garda depan dalam supervisi partisipatif. Ini bukan hanya tentang memilih pemimpin, namun bagaimana menjaga demokrasi itu sendiri.” Melalui berbagai program edukasi dan kegiatan yang melibatkan partisipasi aktif, Bawaslu Kabupaten Tegal berharap dapat membangkitkan semangat anak muda untuk lebih mengenal dan memahami pentingnya demokrasi.
Mengangkat tema “Jangan Cuma Viral, Tapi Harus Peduli Demokrasi”, Bawaslu ingin menanamkan pencerahan bahwa konten yang dibagikan di media sosial harus memiliki nilai lebih. “Jadilah viral dengan langkah yang positif, berbagi informasi yang dapat mendukung proses demokrasi, seperti pentingnya memilih dalam pemilu dan bagaimana menjaga kejujuran dalam pemilu,” tambah Ergiono. Melalui langkah ini, pemuda bukan hanya menjadi pelaku dalam dunia maya tetapi juga dapat menjadi agen perubahan di masyarakat, yang memanfaatkan viralitas untuk tujuan mulia.
Langkah Konkret Bagi Pemuda
Bawaslu juga berupaya keras untuk menekankan langkah nyata yang dapat diambil oleh pemuda untuk berpartisipasi aktif. Mulai dari pendidikan politik hingga pelatihan mengenai langkah supervisi pemilu, Bawaslu berkomitmen untuk menyediakan wahana dan prasarana bagi generasi muda agar lebih terlibat dalam kegiatan yang mendukung demokrasi. Ergiono menyatakan pentingnya memberikan peluang kepada anak muda buat langsung terjun ke lapangan. “Kami juga mengundang mereka buat bergabung sebagai sukarelawan pengawas pemilu, memberi mereka pengalaman langsung,” jelasnya.
Partisipasi aktif ini diharapkan dapat membentuk generasi muda yang tidak cuma acuh dengan keadaan bangsa, namun juga kritis terhadap berbagai kebijakan serta aktif dalam mendorong transparansi dan kejujuran dalam proses pemilu. Dengan terlibat langsung, mereka dapat menyuarakan aspirasi dan ikut menjaga serta mengawal jalannya demokrasi. Selain itu, Bawaslu juga memperkenalkan platform digital sebagai sarana bagi pemuda buat melaporkan kecurangan atau hal-hal yang mencederai proses demokrasi.
Menghadapi Tantangan Internasional Maya
Tidak mampu dipungkiri, internasional maya mempunyai energi tarik kuat bagi generasi muda. Namun, tantangan ini dihadapi dengan keyakinan bahwa edukasi yang pas dapat mengarahkan pemuda untuk bijak dalam memanfaatkan teknologi. Generasi muda diharapkan lebih teliti dalam menyebarkan informasi dan tidak mudah terpancing dengan konten yang memecah belah. Ergiono mengingatkan, “Di lagi derasnya arus informasi, penting bagi kita untuk bijak dalam memilah mana informasi yang bermanfaat bagi demokrasi dan mana yang malah merugikan.”
Bawaslu percaya bahwa dengan membekali generasi muda dengan pengetahuan dan pengalaman, mereka dapat menjadi pilar kuat bagi demokrasi yang statis berkembang ini. Edukasi yang terus-menerus dan relevan akan sangat membantu dalam menciptakan kaum muda yang acuh dan peka terhadap isu-isu politik serta demokrasi bukan sekadar ajang untuk menjadi viral tetapi juga sarana memberikan perubahan konkret bagi bangsa.
Dalam keseluruhan upayanya, Bawaslu Kabupaten Tegal bukan hanya ingin meningkatkan partisipasi pemuda dalam proses demokrasi secara kuantitatif, tetapi lebih dari itu, mengedepankan kualitas partisipasi yang berkelanjutan. Seluruh ini bertujuan untuk mewujudkan demokrasi yang sehat dan bergerak, yang tak hanya sebatas ritual lima tahunan, tetapi menjadi napas dari kehidupan masyarakat sehari-hari.


