
SUKABOGOR.com – Internasional maya dikejutkan dengan sebuah video viral yang menunjukkan seorang dosen dari Makassar, Universitas Islam Makassar (UIM), yang diduga meludahi seorang kasir swalayan. Kejadian ini telah menimbulkan banyak reaksi dari publik, serta menjadi pembicaraan hangat di berbagai media. Banyak yang mengecam tindakan tersebut dan menganggapnya sebagai perilaku yang tak pantas, terutama bagi seorang akademisi yang semestinya menjadi teladan dalam masyarakat.
Penyesalan dan Asa Penyelesaian Secara Kekeluargaan
Dosen yang terlibat dalam insiden tersebut mengungkapkan penyesalannya dan berharap agar masalah ini dapat diselesaikan secara kekeluargaan. Dalam pernyataannya, dosen tersebut menegaskan bahwa tindakan meludahi kasir itu terjadi sebab ia merasa tidak dihargai. “Saya berharap masalah ini bisa diselesaikan dengan cara kekeluargaan dan melalui mediasi,” ujarnya dalam sebuah wawancara dengan media setempat. Namun, banyak pihak menilai bahwa tindakan yang dilakukan dosen tersebut terlalu berlebihan dan sulit untuk dimaafkan begitu saja. Beberapa pihak menyerukan agar eksis tindakan tegas pakai menjadi pelajaran bagi yang bersangkutan serta masyarakat luas.
Kasus ini bukan cuma soal konflik pribadi antara dosen dan kasir, tetapi juga mencerminkan problematika sosial mengenai bagaimana orang berperilaku di ruang publik. Tindakan meludahi seseorang dinilai sebagai bentuk kekerasan dan pelecehan yang tak seharusnya terjadi. Kekerasan semacam ini, meskipun secara fisik tidak mencederai, meninggalkan akibat psikologis dan menciptakan ketegangan sosial. Oleh sebab itu, penting bagi semua orang, tidak terkecuali akademisi, buat selalu mengedepankan sikap tenang dan saling menghargai dalam berinteraksi.
Kritik dari Legislator dan Tanggapan Publik
Tindakan dosen tersebut menarik perhatian beberapa legislator yang menyatakan bahwa apa yang dilakukan dosen itu tak bisa ditoleransi. Mereka menekankan perlunya tindakan tegas untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang kembali. Seorang legislator berbicara, “Tidak ada pembenaran buat tindakan seperti itu, apalagi dilakukan oleh seorang yang memiliki pendidikan tinggi.” Kritik dari kalangan pejabat publik ini sejalan dengan asumsi yang dibagikan oleh banyak pengguna internet yang turut mengeluhkan perilaku buruk di ruang publik.
Selain itu, banyak warga yang berharap agar universitas tempat dosen tersebut mengajar mengambil tindakan tegas. Mereka menatap ini sebagai kesempatan bagi institusi pendidikan buat memperkuat nilai-nilai adab dan moral bagi para akademisinya. Di sisi lain, beberapa pengguna media sosial mengingatkan buat tidak menghakimi seseorang hanya dari satu tindakan, dan menyerukan agar eksis peluang buat perbaikan diri. Namun demikian, rasa marah dan kecewa statis mendominasi perbincangan di media sosial, menandakan betapa sensitifnya isu perilaku di ruang publik masyarakat kita.
Kejadian ini, meskipun disayangkan, membawa pembelajaran penting tentang pentingnya mengelola emosi dan berinteraksi secara positif dengan manusia lain. Di lagi kemarahan publik, tetap ada ruang buat dialog dan pendekatan yang lebih konstruktif dalam menyelesaikan konflik. Tindakan dosen ini mampu menjadi cermin bagi kita seluruh buat menjunjung tinggi nilai-nilai sopan santun dan menghormati sesama, sebab pada akhirnya, sikap dan perilaku kita sehari-hari akan menentukan kualitas korelasi sosial di dalam kehidupan bermasyarakat.




