SUKABOGOR.com – Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali menjadi perhatian masyarakat Indonesia, terutama bagi para manusia uzur yang mempunyai anak. Penyakit ini dianggap menjadi ancaman serius bagi anak-anak sepanjang tahun, dan memerlukan perhatian ekstra seiring dengan dimulainya tahun ajaran baru. Dr. Arief, seorang spesialis penyakit dalam, mengingatkan para manusia tua untuk tak lengah dan masih waspada terhadap ancaman DBD, terutama karena curah hujan yang tinggi dapat meningkatkan populasi nyamuk Aedes aegypti, yang menjadi penyebab utama penyebaran penyakit ini. “Kami selalu mengingatkan agar para manusia tua tak mengesampingkan potensi bahaya DBD waktu anak-anak mereka kembali ke sekolah,” ujarnya. Dengan demikian, pencegahan dan penanganan dini menjadi kunci buat melindungi anak-anak dari agresi virus DBD ini.
Pentingnya Pencegahan DBD di Lingkungan Sekolah
Dengan dimulainya tahun ajaran baru, anak-anak kembali aktif di luar rumah, terutama di sekolah. Lingkungan sekolah yang kurang terjaga kebersihannya dapat menjadi loka berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti. Oleh karena itu, langkah pencegahan DBD tak cuma menjadi tanggung jawab rumah tangga tetapi juga sekolah. Orang tua dan pihak sekolah perlu bekerja sama dalam memastikan kebersihan lingkungan sekolah terjaga dengan baik. Pihak sekolah diimbau buat memeriksa kondisi kebersihan secara rutin, terutama genangan air yang dapat menjadi sarang nyamuk. Kampanye kebersihan di lingkungan sekolah juga menjadi salah satu cara efektif dalam mengedukasi anak-anak mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan melindungi diri dari gigitan nyamuk.
Peran Orang Tua dalam Melindungi Anak dari DBD
Orang uzur memiliki peran penting dalam memantau kondisi kesehatan anak mereka, terutama saat ada tanda-tanda yang mengarah pada gejala DBD seperti demam tinggi, nyeri otot, dan ruam pada kulit. Menurut laporan dari Kementerian Kesehatan, 59 persen kematian akibat DBD terjadi pada anak-anak. Oleh karena itu, kewaspadaan dari pihak orang tua sangat diperlukan. Selain menjaga kebersihan lingkungan, orang tua juga disarankan untuk menggunakan kelambu ketika anak tidur dan mengaplikasikan aplikasi anti-nyamuk. Pemakaian obat nyamuk atau lotion anti nyamuk dapat menjadi langkah preventif efektif untuk mencegah gigitan. “Menghindari gigitan nyamuk adalah cara penting yang dapat dilakukan untuk mencegah DBD,” kata Dr. Anita, seorang pakar kesehatan anak.
Enesis Group bersama Soffell turut aktif mengampanyekan pencegahan DBD melalui kegiatan promotif di Asean Dengue Day 2026. Mereka menekankan pentingnya pencerahan kolektif dalam mencegah penyebaran DBD di kawasan Asia Tenggara. Edukasi yang berkelanjutan dan partisipasi aktif dari berbagai pihak menjadi faktor pendukung dalam menekan nomor penyebaran penyakit ini. Kampanye yang dilakukan oleh Enesis Group tersebut diharapkan bisa menumbuhkan kesadaran masyarakat akan bahaya DBD dan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan demi kesehatan berbarengan.
Tingkat insiden DBD tertinggi tercatat terjadi pada anak-anak usia 5 hingga 14 tahun. Faktor penyebab tingginya insiden DBD pada kelompok usia ini diduga sebab aktivitas mereka yang tinggi di luar ruangan serta daya tahan tubuh yang masih dalam tahap perkembangan. Dr. Fahmi dari IDN Times menyebutkan bahwa pemantauan rutin dan peningkatan energi tahan tubuh anak dapat membantu meminimalkan risiko tertular DBD. “Orang tua dapat memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang tepat dan membiasakan mereka buat berolahraga secara teratur,” jelasnya.
Overall, dengan pencerahan dan kerjasama dari seluruh pihak termasuk pemerintah, masyarakat, dan institusi pendidikan, ancaman DBD dapat ditekan dan dampaknya dikurangi. Penyuluhan dan edukasi tentang bahaya DBD dan langkah pencegahannya harus terus dilakukan agar masyarakat lebih siap dan tanggap menghadapi ancaman yang datang setiap tahunnya ini. Dengan cara yang pas, kita dapat melindungi generasi muda dari agresi DBD yang dapat berdampak fatal dan mengganggu aktivitas mereka.


