
SUKABOGOR.com – Insiden yang menghebohkan terjadi di sebuah sekolah alas di Jember, Jawa Timur, ketika seorang guru diduga melakukan tindakan yang sangat tak pantas terhadap murid-muridnya. Kasus ini berawal dari sebuah insiden kehilangan uang senilai Rp75 ribu, yang lalu memicu seorang guru berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) untuk melakukan tindakan yang mengundang amarah banyak pihak. Berikut adalah uraian lebih terus tentang kasus tersebut dan reaksi yang muncul di masyarakat.
Peristiwa Kehilangan Duit yang Berujung Pelecehan
Kasus ini bermula saat seorang guru di salah satu SD di Jember menemukan adanya kehilangan uang senilai Rp75 ribu di lingkungan sekolah. Merasa bertanggung jawab untuk mengatasi masalah ini, sang guru rupanya mengambil langkah yang ekstrem dan tak layak dengan menelanjangi siswa-siswanya. Tindakan ini dilakukan di depan teman-teman sekelas mereka, yang tentu saja menyebabkan trauma mendalam bagi para murid yang dipermalukan di hadapan sahabat sebaya.
Menurut saksi mata dari pihak murid, “Kami sangat kaget dan tidak paham harus berbuat apa waktu itu terjadi. Seluruh merasa sangat malu dan takut.” Kejadian ini lantas menuai kecaman dari berbagai kalangan, baik manusia uzur murid, masyarakat umum, hingga pemerintah setempat. Cara guru tersebut dianggap telah melebihi batas kewenangan dan adab, dan kini memicu obrolan luas tentang batasan peran pengajar dalam mendisiplinkan siswa.
Respon dan Tindakan Lanjutan dari Pihak Terkait
Sebagai imbas dari peristiwa tersebut, pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Jember segera bergerak cepat menangani masalah ini. Guru yang terlibat dalam insiden ini langsung dibebastugaskan dari posisinya untuk mencegah dampak lebih lanjut terhadap siswa dan institusi pendidikan. Selain itu, pihak sekolah dan Dinas Pendidikan juga memberikan dukungan berupa trauma healing kepada siswa yang terdampak, guna mengurangi trauma psikologis yang mereka alami.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, dalam permohonan maafnya kepada masyarakat, mengatakan, “Kami sangat menyesalkan kejadian ini dan bertekad untuk memastikan bahwa tindakan serupa tak akan pernah terjadi lagi. Kami berkomitmen untuk memberikan pelatihan dan pendampingan kepada semua guru sehingga insiden seperti ini tak terulang.”
Di sisi lain, masyarakat dan pemerhati pendidikan menuntut agar ada penilaian menyeluruh terhadap sistem perekrutan dan pelatihan guru, agar oknum yang tak memiliki kompetensi dan empati dalam mendidik anak-anak tak tengah mendapatkan posisi dalam institusi pendidikan. Kasus ini juga memunculkan diskusi mengenai pentingnya pendidikan watak dan pelatihan bagi tenaga pendidik, khusunya dalam menangani masalah disiplin dan emosi para siswa.
Kejadian ini mengingatkan kita betapa pentingnya menjaga profesionalitas dalam profesi sebagai pendidik. Tindakan pendisiplinan yang tak tepat tak cuma mencoreng gambaran profesi guru, namun juga berdampak besar pada psikologis anak-anak yang menjadi korban. Pendidikan tak semestinya menjadi tempat yang menakutkan bagi anak-anak, tetapi sebaliknya, loka di mana mereka merasa kondusif dan termotivasi buat belajar. Diperlukan upaya berkesinambungan dari berbagai pihak buat memastikan keamanan serta kesejahteraan mental dan fisik para siswa.




